ZANDA collection: PENDIDIKAN di balik ANJING KORUPSI

Selasa, 10 Januari 2012

PENDIDIKAN di balik ANJING KORUPSI



Tolak ukur dari kemajuan seatu bangsa dapat dilihat dari seberapa besar tingkat kemajuan dalam bidang pendidikan. Ini berarti dalam pelaksanaanya pendidikan merupakan faktor yang paling menentu dalam proses terciptanya kemajuan suatu bangsa.
Dewasa ini contoh yang paling nyata tentang pentingnya pendidikan adalah hampir 85% warga negara Repoblik indonesia hidup dalam kemiskinan, dan hampir setengah dari warga negara indonesia tidak memiliki pekerjaan. Ini di karenakan masih begitu rendahnya tingkat pendidikan yang mereka miliki. Yang dalam penanganan pemerintah tentang pendidikan masih terasa tumpang tindih dan setengah hati.
Begitu banyak program pemerintah yang telah diprogramkan  dan telah dilaksanakan, namun program tersebut terasa pilih kasih, ini dilihat dari sekian banyak dana yang dikeluarkan pemerintah hanya untuk sekolah-sekolah yang sudah maju dan elit. Namun dalam kenyataannya sekolah-sekolah/madarasah-madrasah khususnya swasta terabaikan. terlebih lagi bagi sekolah ataupun madrasah swasta yang terpencil, hanya menjadi pemandangan begitu kelu dan pilu jika kita lihat dan saksikan. Kemana pemerintah, kemana para pemimpin negara melihat keadaan penerus-penerus bangsa yang dalam keadaan sangat memprihatikan.
Kemudian siapa yang akan harus disalahkan, siapa yang harus bertanggung jawab. Ya, merekalah para anjing-anjing penjilat negara yang harus disalahkan, dan sepantasnyalah mereka membusuk diliang lahad. Berapa juta triliun kekayaan negara yang mereka jilat habis, berapa nyawa melayang gara-gara tingkah biadap yang telah merampas haknya mereka. Berapa banyak hak generasi penerus bangsa akan pendidikan yang mereka rampas, demi perut setan rakus mereka,demi saku mereka, demi apertemen mereka, demi rumah-rumah mereka.
Dan, apa yang telah dilakukah para pengegak hukum, dan apa yang telah di lakukan pak polisi, pak hakim, dan penegak hukum lainnya. Kenapa keadilan di negara ini gampang di beli dengan uang receh, kenapa para penegak hukum gampang disuap dengan janji-janji busuk mereka. Seakan keadilan hanya mimpi, seakan menanti sebuah keajaiban. Kapan mereka akan sadar, kapan mereka akan terbangun dari tidur mereka, atau, apakah mereka semua sudah buta dan tuli, atau mungkin mereka semua sudah mati.
“Hukum Rimba,siapa yang kuat dia yang bisa bertahan hidup” ya, itu adalah nama yang cocok untuk hukum dinegara kita. “Siapa yang banyak uang dia yang akan bertahan hidup”. Dan seakan kita dijadikan tulang-tulang yang mengenyangkan perut mereka. kekecewaan ku teramat sangat kepadamu..

KORUPTOR ANJING PENJILAT (yang tak punya hati)
Tidakkah kau mengiba terhadap senyum ku
Tidak kah kau melirik pandaganku kearahmu.
Tidakakh kau  peduli tentang jiwa-jiwa ku.
Tidakkah kau peduli dengan generasiku.

Begitu hinankah aku,
Begitu tak berhargakah aku,
Padahal nyawamu ada disemangat ku,
Padahal senyumanmu kelak ada disenyumanku,
Padahal kemakmuranmu ada disetiap detak nadiku.

Yang ku butuhkan bukan tawamu,
Yang ku butuhkan bukan sakumu,
Bukan kepalsuan akan janji manismu,
Bukan pula kebiadaban dibalik tingkah mu.

Sudah hilangkah hatimu,
Sudah lenyapkah naluri kebangsaanmu,
Sudah binasakah  semangat akan kecintaanmu akan tanah air,
Kotorkah aku, mengahrap belas kasihmu,
Hinakah aku akan cita-cita luhur untuk negaraku.

Apakah aku atau kau yang patas jadi sampah,
Apakah baju seragamku atau jas dan dasimu yang busuk
Apakah aku yang pantas mati atau kau yang pantas membusuk diliang lahad,
Apakah aku atau kau yang pantas jadi Anjing-Anjing penjilat,
Apakah aku atau kamu...
Apakah aku atau kamu...

Demi bangsaku,,,,
Demi tanah airku,,,
Demi setiap tangisan dari mereka karena  kau rampas haknya
Demi kematian mereka karena kau jilat rizkinya,
Demi orang yang kau rampas tanah dan rumahnya,
Dami mereka yang kau ambil cita-citanya
Demi mereka yang kau ambil masa depannya
Kau akan jadi sampah dalam tanahku, meskipun kau beli hukum di negaraku.
Kau kan jadi bangkai busuk de negaraku, walaupun hartamu membentengimu.

Zirhanuddin,S.Pd.I
02/02/2012






Tidak ada komentar:

Posting Komentar